RSS

Ciieee... Ciieee...

Ciieee... yang jadi kelompok terbaik bahasa Inggris.
Ciieee... yang dapet hadiah buku gratis.
Ciieee... jadi ikutan bangga :)

Temen satunya gak ikutan kefoto. [Bad Luck Ana]

Smoga Fani bisa terus berkembang prestasinya ya. Smoga anggota kelompoknya tetep solid, Dinda sama Ana. Smoga persahabatan kalian tetep terjaga sampe tua ntar :D

Dari Elang Hingga Naga

Hari Minggu pagi pukul 07.30, aku gedor-gedor pintu rumah si Fani. Nggak berapa lama kemudian, dia akhirnya muncul dengan kedua matanya yang masih sembap. Sambil kucek-kucek mata, ia kenakan jaket warna birunya. Penampilannya menandakan bahwa Fani udah siap, maka akupun langsung tancap gas. Ya, rencananya hari ini kita akan menunaikan tugas yang sungguh sangat suci : kencan :D

Sangat menyenangkan jalan-jalan boncengan motor sama si pacar yang sedang sibuk memeluk erat di pinggang karena menggigil kedinginan. Jejalanan menuju ke pusat kota mendukung atmosfer pagi dengan langit bergradasi oranye-biru. Kita berdua menikmati obrolan sampir yang reaksi hangatnya melingkupi udara menusuk yang dingin namun terasa segar.

Tujuan pertama kita, CFD. Acara Car Free Day di Malang, tepatnya jalan Ijen ini, digelar setiap Minggu. Lokasinya berdempetan dengan Pasar Minggu yang ada di sepanjang jalan sekeliling stadion Gajayana. Nah, pagi ini ternyata udah lumayan siang buat CFD, karena acaranya udah mulai bubar. Jadinya kita maen ke Pasar Minggu. Ada apa aja emang di sana? Oh banyak. Ada penjual, pembeli, orang jalan-jalan, orang pacaran, cowok ganteng, cewek cakep, cewek bohay, trus cew... (PLAKK!! *kena gampar Fani)

Lagi asik-asiknya jalan sembari ngeliat pernak-pernik yang dijajakan di beberapa lapak di sepanjang jalan kecil itu, mata Fani tertuju mantap kepada seseorang yang juga lagi asik bawa-bawa elang. Meskipun kalah keren sama pendekar bawa-bawa elang di sinetron Indosiar, tapi asik aja gitu ngeliat langsung burung elang itu kayak gimana. Dan, Fani ngebet pengen foto bareng elang. Yaah, meskipun aku sendiri gidik-gidik ngeliat si elang yang nangkring di lengan Fani, tapi nyatanya dia cukup berani. Di sisi lain, aku ikut bangga. Tapi di dalam hati, aku rasa keperkasaanku sebagai lelaki tergeser karena kalah oleh cewek. Jlebbb...
Fani : "Udah, kamu diem aja disitu ya, Lang" | Elang : "Malu ah mbak. Kita kan masih baru kenal."

Kita sarapan siomay, yang porsinya cukup besar untuk perutku yang kuotanya terbatas ini. Lalu, setelah argumen panjang-lebar tentang kemana selanjutnya kita akan pergi, tanpa sadar kita udah nyampe ke Alun-Alun Batu. Wow, pikirku. Alun-Alun Batu, secara pribadi udah kita berdua jadikan sebagai tempat bersejarah, karena di sinilah tonggak peringatan bersatunya dua pasang hati yang haus akan jalinan kasih-sayang setahun lalu (Aduh, makin alay aja tulisanku :D Maaf Fan, inilah jadinya kalo aku yang nulis blog, hehe....)

Untuk suatu alasan, kita nggak jadi naik bianglala yang ada di situ. Panas, euy. Udah jam 11.00 siang juga. Menurut perhitungan Fani, hanya beberapa menit sebelum wahananya akan dihentikan sementara, jadi kalau kita berdua naik kesitu, tanpa sadar operatornya bakal mempercepat laju bianglalanya sehingga rasanya bakal ilfil aja gitu ("Gila, cepet bener nih bianglala muter, ini wahana ato lagi bikin es serut!")

Sebagai gantinya, kita berdua duduk-duduk di kursi panjang menghadap ke air mancur. Keren gila, pikirku, ini nih yang biasanya orang-orang pacaran lain lakukan. Tapi setelah sekian menit kemudian, kita berdua sadar kalo agaknya suasananya jadi garing. Inisiatif, aku ambil handphone-nya dan mengaktifkan kamera, lalu memfoto si pacar yang cakep banget ini. Hasilnya...

Fani Moooo......
Berharap dapet pujian karena udah memfoto dia jadi cakep bener, eh dianya malah melototin matanya ke arahku. Hahaha.... Dia cuma belum tahu ke-artistikannya muka dia yang bergabung dengan patung sapi di belakangnya :) (Maaf yang).

"Karaokean, yuk...", celetuknya. Karaoke? Nyanyi? Ehemm... "Maaf yang," kataku merdu, "aku nggak mau mempercepat kiamat karena nyanyianku." Terang aja, suara knalpot motor butut Crypton tahun 90-an aja masih kalah cempreng ketimbang suaraku sendiri, bro. Begitu aku nyanyi, kilat menggelegar dan bakal ada ombak tsunami bergulung-gulung menyapu Malang.

Ajakan karaoke pun gagal. Sebelum ia sempat keluarkan nada kecewa, aku menawarkan ajakan buat nonton. Mendengar itu, bibir Fani menyunggingkan senyum, ia setuju! Yeeeyy..... Nah lho, trus mau nonton apa? Ya iyalah nonton film di bioskop, masa' iya mau nonton bebek panggang balap karung (entah kenapa aku mikirin bebek panggang) Sebelumnya kita udah berencana mau nonton Transformers 4, tapi tayangnya gaktau kapan, mungkin masih Juli. Fani search jadwal tayang bioskop Cinema21, yang tayang : Maleficent, Cahaya Dari Timur, 22 Jump Street, dan How to Train Your Dragon 2.

"Yang bagus apa nih?" dia menutup tab browser, menutup aplikasi internet di hapenya. Maleficent? Ah, menurutku kurang greget aja gitu, tentang penyihir jahat di dongeng putri tidur. Cahaya Dari Timur? Ah, apaan lagi, rasanya masih skeptis buat nonton film Indonesia di bioskop, entah kenapa. 22 Jump Street? Bagus sih, cuman gak pas aja nonton komedi-vulgar buat anak pacaran. Jadinya, film animasi How to Train Your Dragon 2. Temanya universal, ringan, meskipun bukan cinta-cintaan tapi cocok aja ditonton. Dan dia juga suka film animasi. Klop deh. Berangkat.


Buat yang belum tahu, film ini menceritakan tentang masyarakat Viking yang hidup berdampingan dengan para naga dan menjadikannya sebagai peliharaan, atau bahkan teman. Tokoh utamanya adalah anak raja bernama Hiccup dengan naganya Toothless. Nah, di sekuelnya ini, diceritakan bahwa ia dipertemukan dengan ibunya yang udah lama hilang, dan ternyata ibunya ini tinggal di kediaman para naga yang jumlahnya banyak banget. Di tempat lain, ada seorang bajak laut jahat yang berniat mengambil seluruh naga yang ada di kediaman ibunya. Di situlah cerita berkembang menjadi peperangan antara Hiccup dan seluruh penduduk Viking melawan para bajak laut.

Feels bored? Nggak juga. Sebaliknya, film ini menurutku keren banget, Mungkin faktor dari animasinya yang bagus, apalagi tingkah lucu para naga (terutama Toothless yang suka guling-guling kayak kucing). Dan drama yang ada di dalamnya secara mencengangkan bener-bener menguras emosi. Mulai dari pertemuan Hiccup dengan ibunya, naga yang mempertaruhkan nyawanya demi Eret yang pada awalnya menjebak naga itu, hingga kematian sang raja Viking kesayangan Hiccup. Berkat film ini, Fani secara sukses dibikin nangis :)

 Udah, cupp...cupp... Fan. Sekarang kita pulang, ya. Kencan di hari Minggu ini pun berakhir. Entah bagaimana perkembangan hubungan kita selanjutnya, yang jelas hari ini aku puas.
Entah bagaimana hubungan kita selanjutnya, semoga ini menjadikan Fani lebih sayang lagi ke aku :)
Semoga.


Back to the Village

Minggu ini jadi minggu paling cadas seumur hidup. Jalanan yang keras, bokong yang panas, bakal jadi menu utama weekend kali ini.

Kemarennya (setelah habis kalah tanding maen badminton lawan Fani), aku nantang dia buat ikut nganterin mbahumiknya pergi ke Dampit. Jadi Minggu pagi-pagi sekali, aku dan keluarga besarnya berangkat ke pelosok ujung Dampit buat njenguk bayi baru lahir. Aku boncengin Mbahumik.
Dampit itu indah, awalnya kukira, sebelum masuk pintu masuk Desa Pujiharjo. Ketika masuk, yang aku temui adalah jalan setapak panjang berkelok-kelok di antara bukit dan jurang, dimana setiap belokan bakal papasan sama kendaraan lain. Kendaraan di sini bukan cuma motor, tapi truk. Jalan seramping itu, dipake jalan truk segede gaban, sama dengan sport jantung. Pasti deg-degan pas tiba-tiba di depan papasan sama truk. Shock Therapy.

Tapi selain itu, sebenernya desa di sini indah banget pemandangannya. Asri, alami, sejuk, pokoknya implementasi imaji kita akan indahnya pedesaan. Jadi pas kita semua sampe tujuan, Fani dan sepupunya asik foto-foto dengan background indahnya. Sementara aku duduk selonjor sambil pasang muka berantakan kayak orang teler.
Pembalap MotoGP disuruh maen kesini palingan juga ngeri

Nyenengin. Bisa lebih deket sama mbahumik, sama sodara-sodaranya yang lain. Karena lebih deket sama keluarganya, bakal jadi lompatan besar buat hubunganku sama Fani lebih awet. Semoga kita langgeng ya Fan :)

Trimakasih buat tawaran petualangan luar biasa hari ini.

eMTeDe

Oke, hari ini harinya MTD.

Bukan, bukan "Malang-Turen-Dampit".
Tapi "Malang Tak seperti Dulu". Aduh, salah lagi. Kebanyakan anak-anak Malang lagi sering mlesetin jadi gitu sih. "Malang Tempo Doeloe" gitu lah pokoknya. Eh, apa emang bener itu ya? :D
Menurutku, beberapa hal emang bakal Tak seperti Dulu.
Malang yang kuno udah berubah jadi penuh modernisasi. Jamannya sepeda onthel udah berubah jadi Satria FU. Gak ketinggalan juga cewek itu, si pacar yang di awal nembak keliatan unyu itu..... berubah sejak negara api menyerang.
Ah sial, avatar aang-nya aku matiin dulu.

Dia, yang dulunya cantik, sekarang berubah jadi lebih cuuaaanntikk......
Dulu yang poninya lurus kayak pager, sekarang dia urai bebas jadi curly alami.
Dulu yang malu-malu kalo aku liatin, sekarang suka mandangin aku lamaaaaa banget.
Dulu yang sifatnya merendah, sekarang aku ngerasa dia jadi tampak lebih indah :)
Dia itu kamu Fani... Iya, kamu :)

Kalo semisal kamu penasaran kapan pas aku bener-bener terpesona akan kamu, itu adalah kayak hari ini fan. Sumpatalah, kamu yang pake baju batik se-lengan, sepatu unyu ada dasi kupu-kupunya, jaket putih tebel brand dari singapore, rambut yang kamu gerai indah itu, jadi alesan cukup buat aku teriak-teriak, "SIAPE LU???"
Aku maleh pangling :D



Hahahaha..... Soalnya, kamu keren abis. Beda jauh sama aku, cupu abis. Baju kerja, jaket butut sama sepatu vantovel, bikin aku kayak bapak-bapak kantoran lagi salah jalan :D
Tapi, ketika aku gandeng kamu ke sekitaran Alun-Alun Malang sampe Kayutangan di malem yang meriah itu, aku yakin aku adalah salah satu cowok paling beruntung sedunia. Bangga setengah mati bisa jalan bareng kamu. Jangankan jalan bareng, hidup bareng kamupun aku mau (hahaha....modus)

Gontok-Gontokan Via Fesbuk

Buahahaha.....

Hahaha...... tunggu tunggu, aku lanjutin ngakaknya dulu :D
Hari ini penat kan, siang-siang lagi, panas, pokoknya bener-bener mengundang ngantuk. Mau bobo' siang, khawatir digebukin bos :D yaiyalah lagi kerja kok malah molor.
Jadinya nyari hiburan sesaat dulu. Bukan, bukan seperti yang kalian pikirkan. Bukan coli, bego. Ngeres aja nih pikirannya. Eh apa emang akunya aja yang ngeres ya kalo ngomong :D
Hiburannya itu, buka fesbuk, say hai sama si pacar. Iseng-iseng komen di statusnya, eh dia bales komen, jadinya kita gontok-gontokan di fesbuk. Tapi dasar dianya yang pinter ngomong, aku dibikin speechless.

Sebenernya isi komennya banyak, tapi mungkin yang paling ngena ya komen yang ini. Iya, ini. Komen yang membuktikan kalo aku gak sepinter babon betina amnesia sekalipun.


Relasi Redundansi

Hari ini itu...

Hari ketiga di minggu ini ketemu Fani lagi.
Aku minta Fani bolehin nganterin dia njenguk temennya yang sakit di RS Marsudi Waluyo di Singosari, sebenernya buat alesan biar aku bisa nemuin dia lagi hari ini :D
Kalo boleh jujur nih, aku sebenernya sungkan kalo sering nemuin dia. Fani apa gak risih gitu ya, kalo aku samperin terus?
Tapi kalo boleh egois, aku maunya ketemu dia teruuusss tiap hari sih. muahahaha......
Pulangnya ia mampirin makan nasi padang (pinter banget nih pacar). Aku sebenernya khawatir banget pas dia maem trus sama minum jeruk anget itu.
Se-anget apapun, itu jeruk, dan Fani gakboleh minum yang asem-asem gitu
Kalo liat wajahku seh gakpapa, meskipun sama asemnya, haha...  -_-
Nasinya juga pedes. aku aja juga sampe huh-hah gitu maemnya, hmm...

Nah akhirnya sakit juga kan tuh perutnya :(
Duuh..... maaf ya yang aku gak nglarang Fani tadi. aku takut dia sakit lagi kayak dulu.
Sebagai pacar, aku ngerasa payah :(
Tapi, bukan berati aku bakal menyerah...

(Akhir-akhir ini banyak kekhawatiran selama berhubungan dengan Fani. Mulai dari khawatir kalo keberadaanku mulai mengganggu dia, khawatir kalo dia sakit lagi, khawatir aku nggak memposisikan diri jadi pacar yang baik, sampai yang paling parah, khawatir kalo aku bukanlah satu-satunya cowok yang dia suka. Maka inilah, relasi redundansi : hubungan dengan kekhawatiran berlebihan) .