Sangat menyenangkan jalan-jalan boncengan motor sama si pacar yang sedang sibuk memeluk erat di pinggang karena menggigil kedinginan. Jejalanan menuju ke pusat kota mendukung atmosfer pagi dengan langit bergradasi oranye-biru. Kita berdua menikmati obrolan sampir yang reaksi hangatnya melingkupi udara menusuk yang dingin namun terasa segar.
Tujuan pertama kita, CFD. Acara Car Free Day di Malang, tepatnya jalan Ijen ini, digelar setiap Minggu. Lokasinya berdempetan dengan Pasar Minggu yang ada di sepanjang jalan sekeliling stadion Gajayana. Nah, pagi ini ternyata udah lumayan siang buat CFD, karena acaranya udah mulai bubar. Jadinya kita maen ke Pasar Minggu. Ada apa aja emang di sana? Oh banyak. Ada penjual, pembeli, orang jalan-jalan, orang pacaran, cowok ganteng, cewek cakep, cewek bohay, trus cew... (PLAKK!! *kena gampar Fani)
Lagi asik-asiknya jalan sembari ngeliat pernak-pernik yang dijajakan di beberapa lapak di sepanjang jalan kecil itu, mata Fani tertuju mantap kepada seseorang yang juga lagi asik bawa-bawa elang. Meskipun kalah keren sama pendekar bawa-bawa elang di sinetron Indosiar, tapi asik aja gitu ngeliat langsung burung elang itu kayak gimana. Dan, Fani ngebet pengen foto bareng elang. Yaah, meskipun aku sendiri gidik-gidik ngeliat si elang yang nangkring di lengan Fani, tapi nyatanya dia cukup berani. Di sisi lain, aku ikut bangga. Tapi di dalam hati, aku rasa keperkasaanku sebagai lelaki tergeser karena kalah oleh cewek. Jlebbb...
| Fani : "Udah, kamu diem aja disitu ya, Lang" | Elang : "Malu ah mbak. Kita kan masih baru kenal." |
Kita sarapan siomay, yang porsinya cukup besar untuk perutku yang kuotanya terbatas ini. Lalu, setelah argumen panjang-lebar tentang kemana selanjutnya kita akan pergi, tanpa sadar kita udah nyampe ke Alun-Alun Batu. Wow, pikirku. Alun-Alun Batu, secara pribadi udah kita berdua jadikan sebagai tempat bersejarah, karena di sinilah tonggak peringatan bersatunya dua pasang hati yang haus akan jalinan kasih-sayang setahun lalu (Aduh, makin alay aja tulisanku :D Maaf Fan, inilah jadinya kalo aku yang nulis blog, hehe....)
Untuk suatu alasan, kita nggak jadi naik bianglala yang ada di situ. Panas, euy. Udah jam 11.00 siang juga. Menurut perhitungan Fani, hanya beberapa menit sebelum wahananya akan dihentikan sementara, jadi kalau kita berdua naik kesitu, tanpa sadar operatornya bakal mempercepat laju bianglalanya sehingga rasanya bakal ilfil aja gitu ("Gila, cepet bener nih bianglala muter, ini wahana ato lagi bikin es serut!")
| Fani Moooo...... |
"Karaokean, yuk...", celetuknya. Karaoke? Nyanyi? Ehemm... "Maaf yang," kataku merdu, "aku nggak mau mempercepat kiamat karena nyanyianku." Terang aja, suara knalpot motor butut Crypton tahun 90-an aja masih kalah cempreng ketimbang suaraku sendiri, bro. Begitu aku nyanyi, kilat menggelegar dan bakal ada ombak tsunami bergulung-gulung menyapu Malang.
Ajakan karaoke pun gagal. Sebelum ia sempat keluarkan nada kecewa, aku menawarkan ajakan buat nonton. Mendengar itu, bibir Fani menyunggingkan senyum, ia setuju! Yeeeyy..... Nah lho, trus mau nonton apa? Ya iyalah nonton film di bioskop, masa' iya mau nonton bebek panggang balap karung (entah kenapa aku mikirin bebek panggang) Sebelumnya kita udah berencana mau nonton Transformers 4, tapi tayangnya gaktau kapan, mungkin masih Juli. Fani search jadwal tayang bioskop Cinema21, yang tayang : Maleficent, Cahaya Dari Timur, 22 Jump Street, dan How to Train Your Dragon 2.
"Yang bagus apa nih?" dia menutup tab browser, menutup aplikasi internet di hapenya. Maleficent? Ah, menurutku kurang greget aja gitu, tentang penyihir jahat di dongeng putri tidur. Cahaya Dari Timur? Ah, apaan lagi, rasanya masih skeptis buat nonton film Indonesia di bioskop, entah kenapa. 22 Jump Street? Bagus sih, cuman gak pas aja nonton komedi-vulgar buat anak pacaran. Jadinya, film animasi How to Train Your Dragon 2. Temanya universal, ringan, meskipun bukan cinta-cintaan tapi cocok aja ditonton. Dan dia juga suka film animasi. Klop deh. Berangkat.
Buat yang belum tahu, film ini menceritakan tentang masyarakat Viking yang hidup berdampingan dengan para naga dan menjadikannya sebagai peliharaan, atau bahkan teman. Tokoh utamanya adalah anak raja bernama Hiccup dengan naganya Toothless. Nah, di sekuelnya ini, diceritakan bahwa ia dipertemukan dengan ibunya yang udah lama hilang, dan ternyata ibunya ini tinggal di kediaman para naga yang jumlahnya banyak banget. Di tempat lain, ada seorang bajak laut jahat yang berniat mengambil seluruh naga yang ada di kediaman ibunya. Di situlah cerita berkembang menjadi peperangan antara Hiccup dan seluruh penduduk Viking melawan para bajak laut.
Feels bored? Nggak juga. Sebaliknya, film ini menurutku keren banget, Mungkin faktor dari animasinya yang bagus, apalagi tingkah lucu para naga (terutama Toothless yang suka guling-guling kayak kucing). Dan drama yang ada di dalamnya secara mencengangkan bener-bener menguras emosi. Mulai dari pertemuan Hiccup dengan ibunya, naga yang mempertaruhkan nyawanya demi Eret yang pada awalnya menjebak naga itu, hingga kematian sang raja Viking kesayangan Hiccup. Berkat film ini, Fani secara sukses dibikin nangis :)
Udah, cupp...cupp... Fan. Sekarang kita pulang, ya. Kencan di hari Minggu ini pun berakhir. Entah bagaimana perkembangan hubungan kita selanjutnya, yang jelas hari ini aku puas.
Entah bagaimana hubungan kita selanjutnya, semoga ini menjadikan Fani lebih sayang lagi ke aku :)
Semoga.



0 komentar:
Posting Komentar